- Dolar AS menguat tipis di tengah ketegangan geopolitik.
- Pasar menanti data inflasi AS.
- Mata uang global bergerak campur aduk.
Ipotnews - Nilai tukar dolar AS menguat tipis, Senin, meskipun sempat tergelincir dari level tertingginya di awal sesi. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah Presiden Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian Washington, yang kembali memicu kekhawatiran akan berlanjutnya konflik di Timur Tengah.
Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi "di ambang kegagalan" setelah dia menolak tawaran Teheran dan menyebutnya tidak dapat diterima. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa konflik yang telah berlangsung sekitar 10 minggu dapat kembali meningkat dan mengganggu jalur pasokan energi global, demikian laporan Reuters, di New York, Senin (11/5) atau Selasa (12/5) pagi WIB.
Kondisi itu langsung berdampak pada pasar minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melesat 3,37 persen menjadi USD98,64 per barel, sementara Brent menguat 3,38 persen ke posisi USD104,71 per barel. Sebelumnya Brent juga tercatat melompat sekitar 2,5 persen jadi USD103,80 per barel. Lonjakan harga terjadi di tengah kekhawatiran pasokan akibat Selat Hormuz yang masih terganggu.
Analis Bannockburn Capital Markets di New York, Marc Chandler, menilai pasar masih kesulitan membaca arah perkembangan situasi. Dia menyebut ketidakpastian terkait penolakan proposal Iran menimbulkan pertanyaan apakah gencatan senjata akan benar-benar berakhir atau justru memasuki fase negosiasi baru yang lebih kompleks.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik tipis 0,07 persen ke level 97,917 setelah sebelumnya sempat menyentuh 98,156. Euro melemah 0,03 persen menjadi USD1,178.
Di sisi lain, pasar juga mencermati rencana pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas sejumlah isu strategis mulai dari konflik Iran, Taiwan, kecerdasan buatan, hingga keamanan nuklir dan komoditas mineral penting.
Yuan China justru menguat 0,08 persen terhadap dolar ke posisi 6,791 per dolar, setelah sebelumnya sempat menyentuh 6,7885 yang merupakan level terkuat sejak Februari 2023. Penguatan ini terjadi di tengah ekspektasi stabilisasi hubungan perdagangan global serta meningkatnya aktivitas ekspor China yang didorong permintaan terkait kecerdasan buatan.
Analis Goldman Sachs, Teresa Alves, menyebut pertemuan tingkat tinggi tersebut dapat menjadi katalis jangka pendek bagi penguatan yuan. Namun dia menilai tren penguatan mata uang China itu lebih ditentukan oleh faktor fundamental jangka panjang dibandingkan hanya pertemuan diplomatik tersebut.
Dari sisi ekonomi makro, data terbaru menunjukkan harga produsen China melonjak melampaui ekspektasi dan mencapai level tertinggi dalam 45 bulan sepanjang April, didorong kenaikan biaya energi global. Selain itu, data ekspor China juga meningkat seiring tingginya permintaan terkait industri kecerdasan buatan.
Di Amerika Serikat, perhatian pasar tertuju pada rilis data inflasi periode April yang akan dirilis pekan ini. Indeks harga konsumen (CPI) dijadwalkan keluar Selasa, disusul indeks harga produsen (PPI), Kamis. Sebelumnya, data ketenagakerjaan AS memperlihatkan penambahan 115.000 pekerjaan non-pertanian pada April, hampir dua kali lipat dari ekspektasi pasar, yang memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Sementara itu, poundsterling Inggris menguat tipis 0,04 persen ke USD1,3637 di tengah tekanan politik terhadap Perdana Menteri Keir Starmer. Sejumlah pejabat dan anggota parlemen dari Partai Buruh dilaporkan mengundurkan diri atau menyerukan pengunduran dirinya setelah meningkatnya ketidakpuasan internal partai.
Versus yen Jepang, dolar AS menguat 0,29 persen jadi 157,11, mencerminkan masih solidnya posisi greenback di tengah ketidakpastian global yang didorong faktor geopolitik dan ekspektasi kebijakan suku bunga. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
إعادة نشر من indopremier_id، جميع الحقوق محفوظة للمؤلف الأصلي.
إخلاء المسؤولية: الآراء الواردة هنا تعبر فقط عن رأي الكاتب، ولا تمثل الموقف الرسمي لـ Followme. لا تتحمل Followme مسؤولية دقة أو اكتمال أو موثوقية المعلومات المُقدمة، ولا تتحمل مسؤولية أي إجراءات تُتخذ بناءً على المحتوى، ما لم يُنص على ذلك صراحةً كتابيًا.
هل أعجبك هذا المقال؟ عبّر عن امتنانك بإرسال نصيحة للكاتب.

اترك رسالتك الآن