Dolar AS Menguat Jelang Risalah FOMC, Pound, Yen, dan Euro Tertekan

avatar
· Views 4,086

Dolar AS Menguat Jelang Risalah FOMC, Pound, Yen, dan Euro Tertekan
Dolar AS kembali mendapat dukungan di pasar valuta asing pada Rabu (7 Oktober), meski ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober justru semakin berkurang. Pergerakan Greenback terjadi ketika pasar menunggu Risalah Rapat FOMC yang akan memberikan petunjuk lebih jelas mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter berikutnya.

GBP/USD

▼ ~1,3250

USD/JPY

▲ ~158,35

EUR/USD

▼ <1,1250

Penguatan Dolar membuat sejumlah mata uang utama berada di bawah tekanan. Bagi trader forex, kondisi ini membuat risalah FOMC menjadi salah satu katalis penting untuk menentukan apakah penguatan Dolar masih memiliki ruang untuk berlanjut.

Harga Minyak Kembali Jadi Masalah bagi The Fed

Salah satu faktor yang membuat Dolar tetap kuat adalah kenaikan harga energi. Minyak yang lebih mahal berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat, terutama jika tekanan harga bertahan lebih lama. Situasi tersebut menjadi semakin penting bagi The Fed karena bank sentral AS masih berusaha memastikan inflasi benar-benar kembali menuju target 2%.

Meskipun data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan pelemahan, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa tekanan inflasi telah berakhir. Kondisi ini membuat komentar para pejabat The Fed mengenai inflasi dan suku bunga akan menjadi perhatian utama dalam risalah FOMC.

Data pekerjaan September juga memberikan alasan bagi pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

NFP September

29 ribu

Vs ekspektasi 90 ribu

Tingkat Pengangguran

4,1% ➜ 4,2%

Peluang Kenaikan Suku Bunga Oktober — CME FedWatch

~20%

Artinya, pasar saat ini tidak melihat kenaikan suku bunga Oktober sebagai skenario utama. Namun, jika risalah FOMC menunjukkan bahwa sejumlah pejabat masih khawatir terhadap inflasi, ekspektasi tersebut bisa kembali berubah.

GBP/USD Tertekan, tapi Pound Punya Penopang dari Inflasi Inggris

GBP/USD turun ke sekitar 1,3250 setelah sebelumnya sempat menguat. Selain penguatan Dolar, Pound menghadapi perhatian pasar terhadap prospek inflasi Inggris. Pejabat Bank of England (BoE) Catherine Mann memperingatkan bahwa inflasi Inggris berpotensi mencapai sekitar 4% menjelang pergantian tahun jika tekanan upah terus bertahan.

Pernyataan tersebut penting karena inflasi yang lebih tinggi dapat membuat BoE mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Dengan demikian, tekanan terhadap GBP/USD sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari fundamental Inggris yang lemah. Pound masih mendapatkan potensi dukungan dari ekspektasi kebijakan moneter BoE yang ketat.
Namun, jika Dolar terus menguat, dukungan tersebut bisa belum cukup untuk mendorong GBP/USD naik.

Trader dapat memperhatikan bagaimana pasangan ini bereaksi terhadap level 1,3250. Jika tekanan jual berlanjut, perhatian berikutnya akan tertuju pada area support di bawah level tersebut. Sebaliknya, jika Risalah FOMC terdengar lebih dovish, GBP/USD berpotensi mendapatkan ruang untuk rebound.

USD/JPY Naik karena BoJ Makin Hati-hati

Di Jepang, Yen juga kehilangan momentum setelah ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dalam waktu dekat mereda. USD/JPY berada di sekitar 158,35, dengan Dolar kembali mendominasi perdagangan.

Gubernur BoJ Kazuo Ueda menegaskan bahwa bank sentral akan mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan harga sebelum menentukan waktu kenaikan suku bunga berikutnya. Pernyataan tersebut membuat pasar melihat kemungkinan BoJ tidak terburu-buru melakukan pengetatan tambahan pada pertemuan Oktober.

Peluang BoJ Naik Oktober (OIS)

~40% ➜ ~12%

Dari awal pekan sebelumnya

Menurut penilaian pasar berbasis overnight index swaps, peluang kenaikan suku bunga BoJ pada Oktober turun menjadi sekitar 12%, dari sekitar 40% pada awal pekan sebelumnya. Pasar justru lebih banyak mengantisipasi perubahan kebijakan pada Desember. Ini menunjukkan bahwa jalur kenaikan suku bunga Jepang kemungkinan berlangsung secara bertahap.

Namun, kenaikan USD/JPY juga menghadapi risiko tersendiri. Rabobank menilai level mendekati 160 dapat kembali memicu kekhawatiran mengenai intervensi Jepang. Bank tersebut juga mempertahankan target tiga bulan USD/JPY di sekitar 155. Jadi, meskipun Yen sedang tertekan, ruang kenaikan USD/JPY tidak sepenuhnya bebas.

Euro Menghadapi Masalah yang Berbeda

Sementara itu, EUR/USD melemah hingga di bawah 1,1250. Berbeda dengan Pound dan Yen, tekanan terhadap Euro kali ini tidak hanya berasal dari Dolar AS. Pasar juga mencermati meningkatnya kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Prancis.

Pemerintah Prancis menghadapi tekanan untuk mengendalikan defisit anggaran, sementara ketidakpastian politik membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset Eropa. Sell-off obligasi Prancis sebelumnya turut meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas fiskal negara tersebut.

Kondisi ini dapat menjadi beban tambahan bagi Euro karena investor harus mempertimbangkan bukan hanya prospek suku bunga, tetapi juga risiko fiskal di kawasan Euro. Dengan kata lain, pelemahan EUR/USD saat ini merupakan kombinasi dari Dolar yang relatif kuat dan meningkatnya risiko internal Eropa.

Risalah FOMC Bisa Mengubah Arah Dolar

Perhatian pasar kini tertuju pada Risalah FOMC. Trader ingin melihat apakah diskusi para pejabat The Fed menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar terhadap inflasi atau justru semakin fokus pada melemahnya pasar tenaga kerja.

Ada 2 skenario utama:

Skenario 1: Risalah Bernada Hawkish

Misalnya menunjukkan bahwa beberapa pejabat masih melihat perlunya mempertahankan suku bunga tinggi atau membuka peluang kenaikan berikutnya, Dolar berpotensi kembali menguat. Kondisi ini dapat menekan GBP/USD dan EUR/USD sekaligus mendorong USD/JPY lebih tinggi.

Skenario 2: Risalah Lebih Khawatir pada Pasar Tenaga Kerja

Ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin turun. Skenario ini berpotensi memberikan tekanan terhadap Dolar dan membuka ruang pemulihan bagi mata uang utama.

Pernyataan pejabat The Fed juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Gubernur Kansas City Fed Jeffrey Schmid sebelumnya memberikan nada cukup hawkish dengan menekankan bahwa inflasi masih menjadi perhatian dan The Fed masih memiliki pekerjaan untuk menjaga stabilitas harga. Karena itu, Risalah FOMC menjadi katalis penting untuk menentukan apakah penguatan Dolar saat ini akan berlanjut atau mulai kehilangan momentum.

إخلاء المسؤولية: الآراء الواردة هنا تعبر فقط عن رأي الكاتب، ولا تمثل الموقف الرسمي لـ Followme. لا تتحمل Followme مسؤولية دقة أو اكتمال أو موثوقية المعلومات المُقدمة، ولا تتحمل مسؤولية أي إجراءات تُتخذ بناءً على المحتوى، ما لم يُنص على ذلك صراحةً كتابيًا.

هل أعجبك هذا المقال؟ عبّر عن امتنانك بإرسال نصيحة للكاتب.
الرد 6
avatar
Jam brp ya keluarnya
avatar
Jam 1 pagi klo gasalah
avatar
Waduh hrs dipantau inimah
avatar
Mantap naik trs dolar
avatar
Jam 1 semoga ga ketiduran wkwk
avatar
Sikat ntr malam

-النهاية-

  • tradingContest