
Harga emas kembali menguat pada awal perdagangan Asia, Selasa, dan bertahan di atas level US$4.400 per troy ounce. Harga emas spot (XAU/USD) bergerak di sekitar US$4.415, melanjutkan tren penguatan di tengah melemahnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga logam mulia. Pelemahan tersebut membuat pasar menilai ruang bagi The Fed untuk kembali mengetatkan kebijakan moneter semakin terbatas.
Data AS Tekan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai menurun setelah data Nonfarm Payrolls (NFP) AS Juli menunjukkan kontraksi yang tidak terduga. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh data inflasi konsumen AS yang dirilis pekan lalu dan menunjukkan tekanan harga yang relatif moderat.
Kombinasi kedua data tersebut mendorong investor mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga The Fed kini berada di sekitar 35%, turun dari 47% sebulan sebelumnya.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar juga memberikan tekanan terhadap dolar AS. Bagi emas yang dihargai dalam dolar, pelemahan Greenback membuat logam mulia menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Kondisi ini menjadi katalis positif bagi XAU/USD.
Ketegangan Timur Tengah Masih Jadi Risiko
Meski prospek suku bunga mendukung emas, pergerakan harga masih dibayangi perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Harapan terhadap tercapainya perdamaian antara AS dan Iran kembali menghadapi ketidakpastian setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak tertarik memperpanjang kesepakatan yang akan berakhir dengan Iran.
Situasi tersebut berpotensi kembali meningkatkan ketegangan di kawasan dan mendorong harga minyak.
Jika harga energi kembali melonjak akibat konflik, kekhawatiran terhadap inflasi dapat meningkat. Kondisi tersebut justru berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed dan menjadi risiko bagi reli emas.
James Steel, kepala analis logam mulia HSBC, menilai emas masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan selama harga minyak dan situasi Timur Tengah tidak kembali menjadi sumber tekanan besar.
Konsumsi China Masih Lemah
Selain kebijakan The Fed dan geopolitik, pasar emas juga mencermati kondisi ekonomi China sebagai konsumen emas terbesar dunia.
Data terbaru menunjukkan penjualan ritel China hanya tumbuh 0,6% secara tahunan pada Juli, melambat dari pertumbuhan 1% pada Juni. Angka tersebut juga berada jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 1,5%.
ING mencatat pertumbuhan penjualan ritel sejak awal tahun baru mencapai sekitar 1,2% secara tahunan. Data tersebut menunjukkan bahwa pemulihan konsumsi China masih rapuh meski pemerintah telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk mendorong belanja masyarakat.
Emas Masih Punya Ruang Naik?
Untuk sementara, kombinasi data ekonomi AS yang melemah, turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, dan tekanan terhadap dolar AS masih menjadi katalis positif bagi harga emas.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan dua faktor utama ke depan: perkembangan konflik AS-Iran dan pergerakan harga minyak.
Jika harga minyak tetap terkendali dan ketegangan geopolitik tidak kembali memburuk, tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga dapat terus mereda. Dalam skenario tersebut, emas berpeluang mempertahankan posisinya di atas US$4.400 dan melanjutkan tren kenaikan.
Sebaliknya, lonjakan harga minyak akibat memburuknya konflik dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi dan membuat pasar mengantisipasi kebijakan The Fed yang lebih ketat.
إخلاء المسؤولية: الآراء الواردة هنا تعبر فقط عن رأي الكاتب، ولا تمثل الموقف الرسمي لـ Followme. لا تتحمل Followme مسؤولية دقة أو اكتمال أو موثوقية المعلومات المُقدمة، ولا تتحمل مسؤولية أي إجراءات تُتخذ بناءً على المحتوى، ما لم يُنص على ذلك صراحةً كتابيًا.

-النهاية-