
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (4/8) setelah mengalami penurunan tajam sehari sebelumnya. Kenaikan ini terjadi karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Minyak Brent naik sekitar 0,53% ke US$84,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,56% ke US$80,79 per barel. Penguatan ini mengikuti aksi jual besar pada sesi sebelumnya, ketika Brent sempat turun lebih dari 7% dan WTI merosot lebih dari 5%.
Tekanan terhadap harga minyak sebelumnya dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut akan menunda serangan baru terhadap Iran serta membuka peluang perundingan untuk meredakan konflik, termasuk terkait Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Namun, optimisme tersebut mereda setelah pemerintah Iran menegaskan bahwa tidak ada proses negosiasi maupun agenda pertemuan dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini kembali meningkatkan ketidakpastian di pasar energi.
Analis menilai harga minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Selama ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb belum sepenuhnya hilang, premi risiko geopolitik diperkirakan tetap bertahan dan dapat menopang harga minyak.
Di sisi lain, data terbaru menunjukkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai pulih, dengan rata-rata pengiriman mencapai 4,2 juta barel per hari, meningkat dari 3,2 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Meski begitu, sejumlah perusahaan pelayaran masih memilih memutar rute melalui Afrika Selatan untuk menghindari risiko keamanan.
Laporan mengenai serangan terhadap kapal di sekitar Oman juga membuat biaya asuransi pengiriman tetap tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun arus ekspor mulai membaik, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global masih belum sepenuhnya mereda.
Bagi investor, fokus utama kini tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Setiap eskalasi baru berpotensi mendorong harga minyak kembali naik, sementara sinyal diplomasi yang lebih jelas dapat mengurangi premi risiko dan menekan harga komoditas energi tersebut.
إخلاء المسؤولية: الآراء الواردة هنا تعبر فقط عن رأي الكاتب، ولا تمثل الموقف الرسمي لـ Followme. لا تتحمل Followme مسؤولية دقة أو اكتمال أو موثوقية المعلومات المُقدمة، ولا تتحمل مسؤولية أي إجراءات تُتخذ بناءً على المحتوى، ما لم يُنص على ذلك صراحةً كتابيًا.

-النهاية-