Mata Uang Asia Melemah, Tarif Baru Trump Hidupkan Kekhawatiran Inflasi dan Perkuat Dolar AS

avatar
· Views 1,309

Mata Uang Asia Melemah, Tarif Baru Trump Hidupkan Kekhawatiran Inflasi dan Perkuat Dolar AS

Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada Jumat setelah Presiden Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor baru terhadap 60 negara mitra dagang. Kebijakan ini mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS, sementara kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi.

Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga minggu terakhir setelah yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik di atas 4,7%, sedangkan yield tenor 30 tahun tetap berada di atas 5%. Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap dolar karena investor memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan tetap berhati-hati dalam memangkas suku bunga pada pertemuan pekan depan.

Di Eropa, pasangan EUR/USD melemah setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi dan tetap mengadopsi pendekatan yang bergantung pada data ekonomi setiap pertemuan.


Tarif Baru dan Lonjakan Harga Minyak Dorong Inflasi

Tarif sementara sebesar 10% yang sebelumnya berlaku telah berakhir dan kini digantikan oleh tarif baru sebesar 10% hingga 12,5% untuk impor dari 60 negara mitra dagang AS. Meski demikian, beberapa komoditas seperti minyak, gas, dan sejumlah bahan pangan tetap dikecualikan dari kebijakan tersebut.

Di saat yang sama, harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah serta aksi militer AS terhadap Iran. Risiko gangguan pasokan energi ini kembali memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi global.


Dolar AS Kembali Mendominasi

Menurut OCBC, pasar valuta asing masih relatif tenang meskipun risiko geopolitik meningkat. Namun, jika harga minyak terus naik, volatilitas pasar berpotensi meningkat dan mendorong reli dolar AS yang lebih luas.

Sebagai negara pengekspor energi bersih (net energy exporter), Amerika Serikat dinilai akan lebih diuntungkan dibanding negara lain ketika harga minyak naik. Kondisi tersebut juga memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.


Mata Uang Asia Tertekan

Penguatan dolar AS memberikan tekanan pada sebagian besar mata uang Asia.

  • Won Korea Selatan (KRW) kembali melemah setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam sekitar dua setengah bulan.
  • Yen Jepang (JPY) tetap berada di dekat level terendah dalam hampir empat dekade, sekitar 163,8 per dolar AS, meskipun muncul spekulasi bahwa Bank of Japan (BoJ) dapat menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.
  • Pemerintah AS juga kembali menyoroti volatilitas yen yang dinilai berlebihan dan mendorong Jepang untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.

OCBC menilai bahwa intervensi pemerintah Jepang saja tidak cukup untuk memperkuat yen secara berkelanjutan. Pemulihan yang lebih solid kemungkinan membutuhkan percepatan kenaikan suku bunga oleh BoJ.


Fokus Pasar Pekan Depan

Selain perkembangan tarif dan harga energi, perhatian investor pekan depan akan tertuju pada sejumlah agenda penting, antara lain:

  • Pertemuan Politburo China yang diperkirakan akan mengumumkan stimulus tambahan untuk mendukung konsumsi domestik dan lapangan kerja.
  • Data PMI Manufaktur China bulan Juli.
  • Data perdagangan Korea Selatan sebagai indikator awal permintaan ekspor regional.
  • Keputusan kebijakan moneter Monetary Authority of Singapore (MAS).
  • Pertemuan Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BoJ).

Investor akan mencermati apakah tekanan inflasi akibat tarif baru dan kenaikan harga energi akan membuat bank sentral utama dunia kembali menunda siklus penurunan suku bunga.

Dampak bagi Pasar Forex

Bagi trader forex, kombinasi tarif impor yang lebih tinggi, kenaikan harga minyak, serta lonjakan yield obligasi AS menjadi faktor utama yang mendukung penguatan dolar AS dalam jangka pendek. Selama ekspektasi suku bunga tinggi masih bertahan, pasangan mata uang seperti EUR/USD, AUD/USD, NZD/USD, dan mata uang Asia berpotensi tetap berada di bawah tekanan. Namun, arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil rapat The Fed dan BoJ pekan depan.

إخلاء المسؤولية: الآراء الواردة هنا تعبر فقط عن رأي الكاتب، ولا تمثل الموقف الرسمي لـ Followme. لا تتحمل Followme مسؤولية دقة أو اكتمال أو موثوقية المعلومات المُقدمة، ولا تتحمل مسؤولية أي إجراءات تُتخذ بناءً على المحتوى، ما لم يُنص على ذلك صراحةً كتابيًا.

هل أعجبك هذا المقال؟ عبّر عن امتنانك بإرسال نصيحة للكاتب.
الرد 0

  • tradingContest