
Kurs rupiah pada perdagangan hari ini diprediksi masih melemah. Walaupun pada pembukaan perdagangan terpantau fluktuatif.
"Untuk perdagangan Kamis, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup melemah di rentang Rp14.430 per USD sampai Rp14.530 per USD," ungkap Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Rabu, 31 Maret 2021.
Ibrahim mengatakan yield obligasi AS bertenor 10 tahun terakhir diperdagangkan pada 1,75 persen, tertinggi dalam 14 bulan. Ini terjadi karena percepatan vaksinasi, tanda-tanda pemulihan ekonomi, dan stimulus besar-besaran AS yang memicu kekhawatiran inflasi.
"Presiden Joe Biden akan mengumumkan rencana besar yang baru untuk pengeluaran infrastruktur akhir pekan ini dengan rencana pengeluaran tambahan untuk perawatan anak dan perawatan kesehatan yang akan diumumkan setelah liburan Paskah," ucap Ibrahim.
Di Eropa, lanjutnya, prospek ekonomi jangka pendek menjadi lebih suram karena Prancis dan Jerman memperkenalkan langkah-langkah pembatasan yang lebih ketat untuk mengekang gelombang ketiga kasus covid-19 di benua tersebut. Kondisi itu juga memberikan tekanan pada euro lantaran melebarnya selisih antara imbal hasil obligasi AS dan Jerman.
Di depan data, laporan ketenagakerjaan AS untuk Maret, termasuk non-farm payrolls, akan dirilis pada Jumat ini dan diawasi dengan ketat untuk tanda-tanda pemulihan ekonomi. Federal Reserve mengutip pemulihan pasar tenaga kerja yang lambat dari covid-19 sebagai alasan sikap dovish-nya pada suku bunga.
"Ke depan, dolar ditetapkan untuk minggu sibuk dari data ekonomi papan atas, dengan laporan pekerjaan terbaru yang akan dirilis Jumat, yang dapat menambah bukti bahwa pemulihan tetap di jalurnya," ulas Ibrahim.
Sementara dari internal, rilis data ekonomi dalam negeri yang positif terutama dari PMI manufaktur yang berada di atas level ekspansif. Selain data manufaktur, realisasi investasi dan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2021 juga lebih tinggi dibandingkan posisi tahun sebelumnya.
Dari beberapa indikator ekonomi yang mengalami tren perbaikan membuat pemerintah tetap optimistis terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional dapat tercapai di kisaran 4,5 persen sampai 5,3 persen. Walaupun pemerintah juga memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2021 masih berada di zona negatif yaitu di kisaran minus 0,1 persen sampai 1,0 persen.
Menurutnya, optimisme pertumbuhan ekonomi di Indonesia tak terlepas dari rasa optimistisme terhadap perkembangan ekonomi secara global pada 2021 yang akan tumbuh positif hingga 5,0 persen, setelah terkontraksi 3,8 persen pada tahun sebelumnya.
"Sinyal pemulihan ini terlihat dari perbaikan ekonomi di banyak negara, termasuk Tiongkok dan AS, didukung stimulus fiskal dan moneter serta mulai meningkatnya mobilitas manusia dan aktivitas perekonomian akibat masyarakat sudah divaksinasi, sehingga nantinya akan hidup berdampingan dengan covid-19," pungkas Ibrahim.
Diunggah ulang dari Medcom.id, semua hak cipta dimiliki oleh penulis asli.
إخلاء المسؤولية: الآراء الواردة هنا تعبر فقط عن رأي الكاتب، ولا تمثل الموقف الرسمي لـ Followme. لا تتحمل Followme مسؤولية دقة أو اكتمال أو موثوقية المعلومات المُقدمة، ولا تتحمل مسؤولية أي إجراءات تُتخذ بناءً على المحتوى، ما لم يُنص على ذلك صراحةً كتابيًا.

اترك رسالتك الآن